Gmpnews.id, Yogyakarta – Semangat perjuangan para aktivis era 1980–1990-an kembali menyala dalam ajang Konferensi Republik yang digelar di University Club Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Sabtu (30/5/2026). Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum intelektual, tetapi juga momentum strategis untuk merajut kembali simpul-simpul gerakan massa, khususnya dari kalangan eks Badan Koordinasi Mahasiswa (Bakor) Bandung.
Dengan semangat swadaya, para peserta datang dari berbagai daerah di Jawa Barat menggunakan beragam moda transportasi, mulai dari kendaraan pribadi, kereta api, hingga bus umum. Kehadiran mereka dilandasi satu tujuan yang sama: memenuhi panggilan republik.
Ratusan akademisi, aktivis, pegiat organisasi masyarakat sipil, serta berbagai komunitas berkumpul dalam agenda bertajuk “Meneguhkan Civil Society Pilar Republik.” Bagi eks aktivis Bakor Bandung, forum ini bukan sekadar diskusi ilmiah, melainkan ruang konsolidasi sekaligus pelepas rindu atas jejaring gerakan yang sempat terfragmentasi oleh dinamika kehidupan.
Dalam forum tersebut, muncul kegelisahan bersama terkait dominasi gerakan berbasis media sosial yang dinilai belum mampu menggantikan kekuatan aksi nyata di lapangan.
Aktivis senior Bakor Bandung era 1980-an, Saleh Hidayat atau yang akrab disapa Kang Dayat (KD), menegaskan pentingnya aksi konkret dalam mendorong perubahan sosial.
“Sekuat apa pun desakan di media sosial, tanpa aksi massa yang nyata, itu hanya akan menjadi kebisingan sesaat tanpa dampak signifikan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kehadiran fisik dalam ruang-ruang konsolidasi tetap menjadi kewajiban ideologis bagi para penggerak perubahan. Menurutnya, setiap gerakan harus berlandaskan nilai kebenaran, keadilan, dan keberpihakan terhadap kemanusiaan.
Meski usia tidak lagi muda, semangat para aktivis tetap terjaga. Rambut yang memutih dan keterbatasan fisik tidak menghalangi mereka untuk tetap hadir dan berkontribusi.
Pertemuan ini bahkan berkembang menjadi ajang reuni emosional bagi jaringan aktivis mahasiswa Jawa Barat. Suasana hangat penuh keakraban terlihat dari pelukan, tawa, hingga diskusi-diskusi kecil yang menghidupkan kembali memori perjuangan masa lalu.
Salah satu peserta, Mulyadi, alumnus Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, menegaskan pentingnya peran setiap elemen masyarakat dalam memperkuat civil society.
“Setiap profesi memiliki perannya masing-masing. Petani menghasilkan pangan, dokter menyembuhkan, dan aparat menjaga keamanan. Semua harus berjalan sesuai fungsinya demi terciptanya keadilan sosial,” ucapnya.
Antusiasme yang terbangun dalam konferensi ini dipastikan akan berlanjut. Ketua Panitia Konferensi Republik, Syaiful Bahari, menyampaikan bahwa pertemuan lanjutan direncanakan berlangsung di Bandung pada Juli 2026.
Meski lokasi kampus penyelenggara masih dalam tahap kajian, agenda di Bandung diproyeksikan lebih dinamis dengan menghadirkan materi dan narasumber yang lebih beragam serta berorientasi pada aksi nyata.
Konferensi tersebut diharapkan mampu memperkuat peran masyarakat sipil sebagai pilar penting dalam menjaga nilai-nilai demokrasi dan keadilan di Indonesia.
Semangat yang kembali menyala dari Yogyakarta kini diharapkan menjadi energi baru yang akan terus bergulir dan mencapai puncaknya di Bandung dalam waktu dekat.
Kontributor: GMP News – Godhy.M