Oleh: Mulyadi Soma M
Gmpnews.id, Brebes – Di tengah dominasi kultur Jawa di wilayah administratif Provinsi Jawa Tengah, terdapat sebuah kampung adat yang tetap teguh menjaga identitas Sunda. Kampung Budaya Jalawastu, yang terletak di Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, menjadi bukti hidup keberlanjutan warisan budaya Sunda di luar wilayah geografis utamanya. Rabu (10/06/2026)
Keberadaan Jalawastu menghadirkan keunikan tersendiri. Masyarakatnya menggunakan bahasa Sunda Brebes dalam kehidupan sehari-hari dan memegang teguh tradisi leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Secara historis, wilayah barat Jawa Tengah memang pernah menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Jalawastu pun menjadi salah satu saksi hidup dari jejak kejayaan tersebut yang tetap bertahan di tengah arus modernisasi.
Sejarah dan nilai spiritual Kampung Jalawastu tidak dapat dilepaskan dari sosok Pangeran Cakrabuana atau Raden Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran.
Berdasarkan cerita tutur masyarakat setempat, perjalanan spiritual sang pangeran membawanya mengembara keluar dari pusat kerajaan untuk mencari hakikat ketuhanan sekaligus menyebarkan ajaran tauhid.
Dalam pengembaraannya, Pangeran Cakrabuana singgah di kawasan kaki Gunung Kumbang, Brebes. Di lokasi tersebut, ia melakukan kontemplasi dan meninggalkan jejak spiritual berupa petilasan yang hingga kini dijaga dan dihormati oleh masyarakat setempat.
Petilasan tersebut tidak hanya dipandang sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai sumber energi spiritual yang memperkuat nilai moral, adat, dan keseimbangan ekologi masyarakat Jalawastu.
Upaya memahami langsung kehidupan dan nilai budaya Jalawastu dilakukan oleh dua penjelajah budaya, H. Mulyadi dan Asep Supri Yatna, pada 5 Juni 2026. Perjalanan dimulai dari Desa Ciampel, Kecamatan Kersana, Brebes, dengan menggunakan sepeda motor karena kondisi medan yang cukup berat.
Akses menuju kampung ini dikenal ekstrem, dengan jalan sempit, rusak, serta dipenuhi tanjakan dan turunan curam. Perjalanan ditempuh selama sekitar 1,5 jam sebelum akhirnya tiba di Jalawastu pada sore hari.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh masyarakat setempat dan bermalam di kediaman Kuncen Jalawastu, Khaerudin, yang merupakan juru kunci generasi ke-12 sekaligus pemegang otoritas adat.
Keesokan harinya, rombongan melakukan ziarah ke petilasan Pangeran Cakrabuana. Sebelum memasuki kawasan sakral tersebut, setiap peziarah diwajibkan mematuhi aturan adat yang ketat, di antaranya:
1. Berpuasa atau menahan diri dari makan sebelum prosesi doa selesai.
2. Tidak membawa atau mengenakan barang berbahan kulit hewan.
3. Menjaga ucapan dan menghindari perkataan kasar.
4. Menjaga kebersihan lingkungan secara mutlak.
5. Menjaga keharmonisan alam sebagai bagian dari nilai spiritual.
Aturan ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Jalawastu yang menempatkan kesucian batin dan kelestarian alam sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Di area petilasan, terdapat sumber mata air alami yang mengalir dari sela-sela bebatuan. Airnya jernih, dingin, dan menjadi simbol kehidupan serta kesucian.
Di lokasi tersebut, para peziarah memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memohon keberkahan, kesehatan, dan keselamatan hidup, sekaligus mensyukuri keindahan alam yang masih terjaga.
Setelah ziarah, rombongan kembali ke pemukiman warga dan disuguhi hidangan sederhana khas Jalawastu, seperti sambal terasi, tempe goreng, dan telur.
Meski sederhana, hidangan tersebut mencerminkan kehidupan masyarakat yang selaras dengan alam. Dalam momen tertentu, seperti upacara adat Ngasa, masyarakat bahkan hanya mengonsumsi nasi jagung dan sayuran tanpa lauk hewani, sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai spiritual dan alam.
Hingga 2026, Kampung Adat Jalawastu tetap bertahan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang diakui secara nasional. Keberlanjutan ini didukung oleh tiga pilar utama:
• Arsitektur Tradisional: Rumah dibangun tanpa tembok dan genteng, menggunakan bahan alami seperti kayu dan bambu.
• Kepatuhan Adat: Sistem kepemimpinan adat dijalankan oleh kokolot dan kuncen yang dihormati masyarakat.
• Ekologi Spiritual: Alam dijaga sebagai bagian dari kehidupan spiritual, bukan objek eksploitasi.
Kampung Budaya Jalawastu memberikan pesan kuat bahwa modernisasi tidak harus menghapus akar budaya. Harmoni antara sejarah, spiritualitas, dan lingkungan dapat menjadi fondasi kehidupan yang berkelanjutan.
Pengembaraan spiritual Pangeran Cakrabuana ke Jalawastu diyakini sebagai bagian dari syiar Islam yang damai, dengan pendekatan yang menyelaraskan ajaran tauhid dan kearifan lokal masyarakat Sunda.
Jalawastu bukan sekadar kampung adat, melainkan simbol ketahanan budaya dan bukti bahwa nilai-nilai leluhur masih relevan di tengah dunia modern.
Penulis: Mulyadi Soma M Alumni Universitas Pasundan Bandung Pemerhati Budaya
Editor: Syah