Ketika Masjid Terlalu Banyak Larangan, Negeri Pun Dipenuhi Larangan
Oleh: Saeed Kamyabi
Gmpnews.id, Bengkulu – Pernahkah kita bertanya, mengapa di negeri yang kaya sumber daya ini, masyarakat sering merasa sulit bergerak? Mengapa orang kecil yang ingin berusaha justru lebih sibuk mengurus izin daripada mengembangkan usahanya?
Mengapa kreativitas sering terhambat oleh begitu banyak aturan dan prosedur?
Mungkin jawabannya perlu kita renungkan dari tempat yang paling mulia: masjid.
Masjid adalah tempat pertama umat belajar memimpin dan dipimpin. Cara sebuah masjid dikelola dapat membentuk cara pandang terhadap amanah, pelayanan, dan penggunaan wewenang.
Apabila budaya yang berkembang adalah budaya mempersulit, bukan melayani, maka jangan heran apabila pola pikir yang sama terbawa ke ruang-ruang birokrasi.
Ada masjid yang dipenuhi berbagai larangan, dilarang makan, dilarang minum, dilarang tidur, dilarang bersuara, hingga jamaah merasa tidak nyaman. Larangan ini, larangan itu, semua harus melalui izin, sementara ruang untuk berinisiatif semakin sempit.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Permudahlah dan jangan mempersulit.”
Jika budaya mempermudah tidak tumbuh sejak di rumah Allah, bagaimana mungkin ia tumbuh ketika seseorang memegang jabatan yang lebih besar?
Akibatnya, ketika sebagian orang yang terbiasa dengan pola pikir tersebut berada dalam posisi memimpin, mereka dapat memandang kekuasaan sebagai hak pribadi, bukan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Lahir berbagai aturan yang, dalam pandangan banyak masyarakat, terasa membebani. Misalnya prosedur perizinan yang panjang bagi usaha kecil, administrasi yang berbelit, persyaratan yang berulang, pelayanan publik yang lambat, hingga kebijakan yang kurang mempertimbangkan kondisi rakyat kecil.
Padahal tugas pemimpin bukan memperbanyak hambatan, tetapi membuka jalan kemudahan selama tetap menjaga ketertiban dan keadilan.
“Ini Masjid Saya”
Kalimat yang kadang terdengar adalah:
“Ini masjid saya.”
“Saya pengurusnya.”
“Terserah saya.”
Padahal tidak ada seorang pun yang memiliki rumah Allah.
Masjid bukan milik ketua DKM. Bukan milik imam. Bukan milik donatur. Bukan milik kelompok tertentu.
Masjid adalah milik Allah.
Pengurus hanyalah pelayan umat.
Apabila sejak awal seseorang terbiasa menganggap amanah sebagai milik pribadi, maka ketika memperoleh amanah yang lebih besar, ia berisiko membawa pola pikir yang sama.
Karena itu Islam mengajarkan bahwa jabatan adalah amanah, bukan kehormatan.
Belajar dari Umar bin Abdul Aziz
Sejarah mencatat salah satu pemimpin paling adil dalam Islam, Umar bin Abdul Aziz.
Beliau memandang jabatan bukan sebagai kesempatan menikmati kekuasaan, melainkan beban yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Beliau memangkas kemewahan pejabat, mengembalikan harta yang bukan haknya, memperbaiki tata kelola pemerintahan, menegakkan keadilan, dan memastikan hak rakyat terpenuhi.
Riwayat-riwayat sejarah menggambarkan bahwa pada masa pemerintahannya kesejahteraan meningkat sehingga di sejumlah wilayah petugas zakat kesulitan menemukan orang yang berhak menerima zakat. Hal ini sering dijadikan contoh keberhasilan kepemimpinan yang amanah, meskipun rincian kisahnya berasal dari berbagai sumber sejarah Islam.
Apa rahasianya?
Bukan karena beliau memiliki negeri paling kaya.
Tetapi karena beliau memiliki hati yang takut kepada Allah.
Masjid Membutuhkan Manajemen Profesional
Sudah saatnya pengelolaan masjid dilakukan secara profesional.
Pengurus masjid bukan sekadar orang baik.
Pengurus masjid harus memiliki ilmu.
Ilmu kepemimpinan.
Ilmu administrasi.
Ilmu keuangan.
Ilmu pelayanan jamaah.
Ilmu komunikasi.
Ilmu pengembangan ekonomi umat.
Karena itu sudah waktunya Indonesia memiliki pelatihan manajemen masjid secara nasional.
Bahkan menurut Helmi Hasan, Gubernur Bengkulu, sudah selayaknya lahir Program Studi Manajemen Masjid di perguruan tinggi, agar lahir generasi pengelola masjid yang profesional, amanah, dan mampu menjadikan masjid sebagai pusat peradaban.
Masjid bukan hanya tempat shalat.
Masjid adalah sekolah kepemimpinan.
Masjid adalah pusat pemberdayaan.
Masjid adalah pusat pendidikan karakter.
Masjid adalah pusat solusi umat.
Dari Yatsrib Menjadi Madinah
Sejarah memberi pelajaran yang sangat besar.
Sebelum kedatangan Rasulullah ﷺ, Yatsrib dikenal sebagai kota yang penuh konflik antarsuku.
Namun setelah Rasulullah membangun Masjid Nabawi sebagai pusat pembinaan umat, perlahan lahirlah masyarakat yang bersatu, saling menolong, dan berakhlak mulia. Kota itu kemudian dikenal sebagai Madinah al-Munawwarah, kota yang bercahaya.
Perubahan besar tidak dimulai dari istana.
Tidak dimulai dari pasar.
Tetapi dimulai dari masjid.
Jika Yatsrib dapat berubah menjadi Madinah, mengapa Indonesia tidak?
Tentu perubahan sebuah bangsa dipengaruhi banyak faktor, seperti pendidikan, hukum, ekonomi, dan tata kelola pemerintahan. Namun masjid dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun karakter masyarakat yang kemudian ikut membentuk kehidupan berbangsa.
Indonesia Bisa, Asal Mau
Mari kita jadikan masjid sebagai tempat melahirkan pemimpin yang melayani, bukan menguasai.
Pemimpin yang memudahkan, bukan mempersulit.
Pemimpin yang amanah, bukan semena-mena.
Karena ketika amal di rumah Allah semakin baik, kita berharap lahir masyarakat yang semakin baik, dan dari masyarakat yang baik akan lahir pemimpin-pemimpin yang lebih baik pula.
Semoga Allah menjadikan masjid-masjid di negeri ini sebagai cahaya perubahan menuju Indonesia yang adil, makmur, religius, dan penuh keberkahan.
Saeed Kamyabi
Pengurus Masjid Manarul Hidayah
Balairaya Semarak Bengkulu