MUI DKI Jakarta Dorong Jakarta 5 Abad Tetap Menjadi Kota Global yang Religius dan Beradab

Gmpnews.id, Jakarta – Menyongsong usia lima abad Kota Jakarta, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta mendorong lahirnya visi Jakarta sebagai kota global yang tetap mempertahankan karakter religius, beradab, serta berakar kuat pada sejarah dan budaya masyarakat Betawi. Rabu (19/08/2026)

Gagasan tersebut mengemuka dalam agenda Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) MUI DKI Jakarta yang berlangsung selama dua hari di Hotel Grand Santika, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pimpinan dan pengurus MUI DKI Jakarta, Dewan Pertimbangan MUI DKI Jakarta, pengurus MUI dari lima wilayah administrasi Jakarta, serta sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan.

Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI DKI Jakarta Ustaz Eki Pitung, Ketua Umum MUI DKI Jakarta Gus Faiz, Ketua DPRD DKI Jakarta Dr. Suhud, Ketua KADIN DKI Jakarta Nadia, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, serta para pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam dan tokoh ulama di Ibu Kota.

Bang Eki Pitung / M.Rifqi anggota Dewan Pertimbangan ( WANTIM ) MUI DKI Jakarta bersama Ketua DPRD DKI Jakarta Ust Dr.Suhud dan Pimpinan Ormas Islam DKI Jakarta

Dalam forum tersebut, anggota Dewan Pertimbangan MUI DKI Jakarta Muhammad Rifqi atau yang akrab disapa Eki Pitung, menyampaikan gagasan agar perjalanan Jakarta menuju kota global tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi, infrastruktur, teknologi, dan investasi, tetapi juga dari kemampuan mempertahankan nilai agama, akhlak, moral, budaya dan karakter masyarakatnya.

Eki Pitung mengusulkan agar momentum menuju 500 tahun usia Jakarta menjadi kesempatan untuk merumuskan sebuah tagline yang dapat menjadi identitas sekaligus pengingat bersama bagi seluruh masyarakat.

Menurut Eki Pitung, tagline tersebut diharapkan bukan sekadar slogan seremonial, melainkan dapat menjadi semangat dan rambu-rambu dalam pembangunan Jakarta sebagai kota global.

“Jakarta sedang menuju kota global. Karena itu, kita harus memikirkan Jakarta ke depan. Jangan sampai ketika Jakarta semakin terbuka terhadap arus bisnis, ekonomi, teknologi dan budaya internasional, karakter religius dan keberadaban masyarakat justru semakin tergerus,” ujar Eki Pitung dalam keterangannya.

Ia menilai, transformasi Jakarta menjadi kota global merupakan sebuah keniscayaan. Namun, proses tersebut harus tetap memperhatikan identitas dan karakter masyarakat yang telah terbentuk selama ratusan tahun.

Eki mengingatkan bahwa Jakarta memiliki sejarah panjang dengan masyarakat Betawi sebagai salah satu masyarakat inti yang sejak dahulu dikenal memiliki karakter religius, menjunjung tinggi adat, sopan santun, gotong royong dan nilai-nilai keagamaan.

“Jakarta sebagai kota global mau menjadi New York, Abu Dhabi, atau Bangkok? Masing-masing kota global itu memiliki ciri dan karakter bangsanya. Jakarta juga harus mempunyai identitas sendiri. Jangan sampai menjadi kota global tetapi kehilangan napas dan jati dirinya,” katanya.

Menurut dia, kemajuan sebuah kota tidak semata-mata ditentukan oleh gedung pencakar langit, pusat bisnis, investasi asing, perkembangan teknologi maupun konektivitas internasional. Sebuah kota juga membutuhkan masyarakat yang memiliki moral, etika, toleransi, serta kehidupan sosial yang sehat.

Karena itu, menurut Eki, karakter religius dan beradab harus menjadi bagian penting dalam perjalanan Jakarta menuju kota global.

Eki Pitung juga menyoroti derasnya perkembangan teknologi digital yang semakin memengaruhi kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda.

Platform media sosial seperti TikTok, YouTube dan berbagai kanal digital lainnya membuat informasi dan video dapat menyebar dalam hitungan detik. Kondisi tersebut, menurutnya, membawa manfaat besar apabila digunakan secara positif, tetapi juga memiliki risiko apabila dimanfaatkan untuk menyebarkan provokasi, hoaks, ujaran kebencian maupun konten yang dapat memecah belah masyarakat.

“Sekarang sebuah video bisa direkam dalam hitungan detik, kemudian langsung diunggah dan tersebar ke berbagai akun. Kita terkadang sulit membedakan mana realitas, mana provokasi, mana rekayasa dan mana konten yang sengaja dibuat untuk mengadu domba,” ujarnya.

Ia menilai tantangan tersebut menjadi semakin serius karena masyarakat, khususnya generasi muda, hidup dalam lingkungan informasi yang sangat cepat.

Menurut Eki, perubahan teknologi tidak mungkin dihentikan. Yang harus dilakukan adalah membangun kemampuan masyarakat untuk menyaring informasi serta memperkuat pendidikan agama, akhlak dan moral.

Dalam konteks tersebut, ia menilai MUI DKI Jakarta memiliki posisi strategis dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan karakter masyarakat Ibu Kota.

“MUI memiliki kunci strategis untuk ikut menjaga akhlak, adab dan nilai-nilai agama di tengah Jakarta yang sedang menuju kota global. MUI harus progresif, peka terhadap perubahan zaman dan mampu membaca tantangan ke depan,” katanya.

Eki mengatakan, MUI DKI Jakarta tidak hanya perlu melihat persoalan keagamaan dari perspektif hari ini, tetapi juga harus memiliki visi jangka panjang dalam menghadapi perubahan Jakarta.

Menurutnya, keberadaan MUI sebagai lembaga yang memiliki hubungan erat dengan ulama, tokoh agama, organisasi masyarakat Islam dan masyarakat luas dapat menjadi kekuatan moral dalam menjaga keseimbangan pembangunan kota.

“Jangan sampai pembangunan fisik dan ekonomi berjalan sangat cepat, tetapi pembangunan manusia dan moral tertinggal. Jakarta harus maju secara ekonomi sekaligus kuat secara moral,” katanya.

Ia berharap gagasan tagline “Jakarta Kota Global yang Tetap Religius dan Beradab” dapat menjadi bahan pembahasan lebih lanjut di lingkungan MUI DKI Jakarta bersama para ulama, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan.

Menurutnya, tagline tersebut dapat menjadi semacam kompas moral dalam menyongsong lima abad Jakarta.

“Harapannya, slogan ini bisa menjadi rambu-rambu kita bersama, bukan hanya bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh masyarakat yang tinggal di Jakarta. Jakarta adalah kota yang dihuni masyarakat dengan latar belakang agama dan budaya yang beragam. Karena itu, religiusitas harus berjalan bersama toleransi, keberadaban dan penghormatan terhadap sesama,” tuturnya.

Mukerda MUI DKI Jakarta juga menjadi ruang untuk membahas berbagai tantangan kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat di tengah perubahan Jakarta.

Kehadiran Ketua DPRD DKI Jakarta, pimpinan KADIN DKI Jakarta, jajaran Kementerian Agama, Dewan Pertimbangan MUI, serta para pengurus MUI dari lima wilayah Jakarta menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi perubahan Ibu Kota.

Eki menegaskan, Jakarta tidak boleh hanya mengejar predikat sebagai kota global dari sisi ekonomi. Status tersebut harus diiringi dengan pembangunan sosial dan budaya yang mampu menjaga identitas masyarakat.

Ia mencontohkan sejumlah kota global di dunia yang tetap memiliki ciri khas budaya dan nilai masyarakatnya meskipun menjadi pusat ekonomi internasional.

“Menjadi kota global bukan berarti harus kehilangan identitas. Justru kota global yang kuat adalah kota yang mampu membuka diri terhadap dunia, tetapi tetap mempunyai karakter dan jati diri,” katanya.

Dalam pandangannya, Jakarta memiliki modal sosial yang sangat besar berupa keberagaman masyarakat, tradisi Betawi, kehidupan keagamaan, organisasi masyarakat, pesantren, masjid, lembaga pendidikan serta komunitas masyarakat yang dapat menjadi fondasi pembangunan manusia.

Karena itu, momentum 500 tahun Jakarta dinilai harus menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali identitas tersebut.

“Jakarta harus terbuka terhadap dunia, tetapi jangan sampai terbuka tanpa batas. Kita harus menerima kemajuan teknologi, investasi, ilmu pengetahuan dan budaya positif dari luar, tetapi tetap memiliki filter berdasarkan nilai agama, hukum, etika dan budaya bangsa,” ujar Eki.

Lebih jauh, Eki menilai keberhasilan Jakarta sebagai kota global pada akhirnya akan sangat bergantung pada kualitas manusianya.

Kota dengan fasilitas modern dan ekonomi yang maju, menurutnya, tetap membutuhkan masyarakat yang memiliki kesadaran hukum, etika sosial, toleransi, kepedulian serta tanggung jawab moral.

Karena itu, pembangunan Jakarta lima abad ke depan diharapkan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pembangunan manusia yang berkarakter.

“Mudah-mudahan dengan slogan yang diusulkan, ‘Jakarta Kota Global yang Tetap Religius dan Beradab’, kita semua memiliki kesadaran bahwa kemajuan tidak boleh menghilangkan nilai-nilai yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta,” pungkasnya.

Gagasan tersebut selanjutnya diharapkan dapat menjadi bahan pembahasan di internal MUI DKI Jakarta serta dikomunikasikan dengan pemerintah daerah, DPRD, Kementerian Agama, pelaku usaha, organisasi masyarakat, tokoh agama dan elemen masyarakat lainnya.

Dengan demikian, perjalanan Jakarta menuju usia lima abad tidak hanya menjadi momentum perayaan sejarah, tetapi juga menjadi titik awal untuk merumuskan masa depan Jakarta sebagai kota global yang modern, terbuka, kompetitif, sekaligus tetap religius, beradab dan memiliki jati diri yang kuat. (Syz08)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *