Gubernur Helmi Hasan: Hidupkan Agama di Rumah, Kunci Bahagia Dunia dan Akhirat

Gmpnews.id, Bengkulu – Di tengah kesibukan tugas negara, Gubernur Bengkulu H. Helmi Hasan kembali mengingatkan bahwa fondasi kebahagiaan sesungguhnya tumbuh bukan di kantor, melainkan di rumah. Kamis (20/8/2026), di Masjid Manarul Hidayah, Balairaya Semarak, beliau hadir langsung memberi motivasi kepada peserta Retret Merah Putih dan Mitigasi Langit — sebuah kegiatan yang kini menjadi ikhtiar spiritual khas Pemerintah Provinsi Bengkulu.

Kali ini, sebanyak 50 ASN perempuan dari 6 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) berkumpul, bukan untuk membahas laporan atau anggaran, melainkan untuk membicarakan hal yang paling mendasar: bagaimana menghidupkan suasana agama di dalam keluarga.

Rumah: Sekolah Pertama yang Menentukan Nasib Keluarga

Dalam amanahnya, Gubernur Helmi Hasan menyampaikan pesan yang menyentuh hati: kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Karena itu, ia mengajak para peserta — yang juga berperan sebagai ibu dan istri — untuk menjadikan rumah sebagai tempat pertama di mana agama dihidupkan.

“Seorang ibu memiliki peran besar dalam membawa keluarganya kepada agama. Ketika agama hidup di rumah, insya-Allah akan lahir ketenangan dan kebahagiaan — bukan hanya untuk kehidupan dunia, tetapi juga untuk kehidupan akhirat.”

Beliau mengingatkan bahwa kebahagiaan keluarga tidak hanya dibangun dari kesuksesan materi atau jabatan, melainkan dari upaya bersama mendekatkan seluruh anggota keluarga kepada Allah SWT. Sebuah contoh nyata disampaikan: meskipun Nabi Nuh adalah utusan Allah, namun ketika istrinya tidak taat, anak-anak pun ikut tidak taat. Begitu besar pengaruh suasana rumah yang dibangun oleh seorang ibu.

Yang terpenting, kata Gubernur, amalan itu tidak harus dimulai dari hal yang besar. Yang dibutuhkan adalah konsistensi dan suasana yang dibangun perlahan. Sebuah langkah sederhana yang bisa langsung dilakukan adalah menghidupkan taklim keluarga, misalnya setelah salat Isya — membaca dan membahas Al-Qur’an serta hadis bersama suami dan anak-anak.

Retret Bukan Titik Akhir, Melainkan Pintu Masuk

Ustaz Saeed Kamyabi, Steering Committee Retret Merah Putih dan Mitigasi Langit, menjelaskan bahwa kegiatan delapan jam ini hanyalah awal dari sebuah perjalanan panjang.

“Retret ini sifatnya baru perkenalan. Peserta diajak memahami bagaimana menghidupkan amal agama di rumah. Setelah ini, programnya akan meningkat secara bertahap.”

Tahapan itu dirancang berjenjang: dimulai dari taklim di rumah masing-masing, berkembang menjadi taklim mingguan di kampung, lalu nusroh jamaah yang datang, kemudian menjadi ansor jamaah, hingga puncaknya keluar masturot bersama suami atau mahram.

“Jadi retret bukan tujuan akhir. Ini adalah pintu masuk untuk membangun suasana agama di rumah secara bertahap dan berkesinambungan,” tambah Ustaz Saeed.

Angkatan ke-22: Lebih dari 1.400 ASN Perempuan Telah Berpartisipasi

Kegiatan pada Kamis itu tercatat sebagai angkatan ke-22 untuk kelompok perempuan. Secara keseluruhan, program ini telah diikuti oleh sekitar 1.422 ASN perempuan. Sesi training dipimpin oleh Ummu Atiqah, dengan materi yang dirancang untuk menumbuhkan kesadaran bahwa keberhasilan seorang ASN tidak diukur dari pencapaian dinas semata, melainkan juga dari bagaimana ia membangun keluarga yang diridhoi Allah.

ASN Pria

Sementara itu, untuk kelompok ASN pria, program ini telah mencapai angkatan ke-32 dengan lebih dari 1.700 peserta. Jika untuk perempuan retret berlangsung delapan jam, maka untuk pria waktunya lebih panjang — tiga hari penuh atau sekitar 72 jam. Pendekatannya pun bertahap, agar peserta tidak hanya memahami secara teori, tetapi benar-benar mempraktikkan dan menghidupkan amal agama dalam kehidupan sehari-hari.

Menghidupkan Agama: Investasi Sejati untuk Negeri

Program Retret Merah Putih dan Mitigasi Langit ini diharapkan menjadi ikhtiar berkelanjutan untuk memperkuat karakter dan ketahanan keluarga ASN di lingkungan Pemprov Bengkulu. Kesibukan sebagai abdi negara, sekaligus ibu rumah tangga, tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kehidupan agama di rumah. Justru dari rumah yang tenang dan diridhoi Allah, lahirlah ASN yang berkualitas, jujur, dan bermanfaat bagi masyarakat.
(@sangsaka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *