Perjalanan Kemanusiaan Gubernur Bengkulu, Tertahan Di Labuan Bajo

Gmpnews.id, Labuan Bajo- 

Ketika Perjalanan Kemanusiaan Harus Berhenti Sejenak

Perjalanan yang panjang ternyata belum benar-benar selesai. Setelah menempuh jalan berliku dari Labuan Bajo, Ruteng, Borong, Nagekeo, hingga Ende — setelah menyapa saudara-saudara yang tertimpa bencana, setelah berhari-hari berpindah dari satu masjid ke masjid lainnya — tibalah waktunya rombongan kembali menuju Labuan Bajo. Selasa (08/09/2026)

Rombongan masih didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu Herwan Antoni, Ketua BAZNAS Provinsi Bengkulu H. Yulkamra, Direktur Utama Bank Bengkulu Iswahyudi, serta tim UPZ Bank Bengkulu.

Rencana semula begitu sederhana: kembali ke Jakarta, menyelesaikan tugas, lalu melanjutkan agenda masing-masing. Namun manusia hanya bisa merencanakan — Allah-lah yang menentukan perjalanan. Dan kali ini, langkah kami harus berhenti di Labuan Bajo. Bukan karena kelelahan, bukan karena kendaraan, bukan pula karena jalan putus. Melainkan karena langit Indonesia sedang berubah.

ANAK KRAKATAU MEMBUAT LANGIT BERUBAH

Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda melepaskan abu vulkanik yang menyebar luas, mengganggu ruang udara di sejumlah wilayah. Bandara Soekarno-Hatta termasuk yang terdampak, dan banyak bandara harus ditutup sementara demi keselamatan penerbangan. Pada Senin, laporan Reuters mencatat tujuh bandara masih ditutup, dengan gangguan yang berdampak pada sekitar 2.300 penerbangan serta lebih dari 270.000 penumpang.

Bagi kami yang berada jauh di Labuan Bajo, berita itu mula-mula terasa biasa saja — sekadar informasi yang kami lihat di televisi dan media sosial. Namun perlahan kami menyadari: berita itu menyangkut kepulangan kami. Pesawat yang seharusnya membawa kami pulang tidak bisa terbang. Bandara tujuan bermasalah. Ruang udara belum aman. Dan perjalanan yang seharusnya berakhir justru berubah menjadi perjalanan yang belum diketahui ujungnya.

Di Bandara Komodo sendiri, pada Minggu 6 September, tercatat 10 penerbangan rute Jakarta–Labuan Bajo dan sebaliknya dibatalkan, melibatkan sekitar 1.280 penumpang — 514 orang yang seharusnya tiba dari Jakarta, dan 766 orang yang seharusnya berangkat pulang. Lima maskapai terdampak: Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air, AirAsia, dan Super Air Jet. Dan kami termasuk di antara mereka yang harus menunggu.

AGENDA YANG TERPAKSA BERUBAH

Satu pembatalan penerbangan ternyata bukan sekadar perubahan jadwal pesawat. Di belakangnya ada banyak agenda manusia yang ikut berubah. Agenda Gubernur Helmi Hasan yang sudah disusun rapi setelah kembali ke Bengkulu dan Jakarta harus tertunda. Demikian pula agenda Direktur Utama Bank Bengkulu Iswahyudi, Sekretaris Daerah Herwan Antoni, Ketua BAZNAS Provinsi Bengkulu H. Yulkamra, serta seluruh anggota rombongan. Semua sudah dijadwalkan, semua sudah direncanakan — namun satu demi satu harus ditunda.

Di sinilah manusia kembali belajar tentang keterbatasan. Kita boleh menyusun jadwal sebaik mungkin, mengatur waktu sedetail mungkin — namun sebutir abu vulkanik yang terbang ribuan meter di atas langit mampu mengubah semuanya dalam hitungan jam.

DAN ADA SATU HAL LAGI: KERISAUAN KELUARGA

Di tengah ketidakpastian itu, ada keluarga di rumah yang menanti. Mereka melihat televisi, membaca berita, melihat gambar Gunung Anak Krakatau memuntahkan abu, serta laporan tentang bandara yang ditutup dan penerbangan yang dibatalkan. Tentu saja pertanyaan datang beruntun: “Kapan pulang?”, “Sudah dapat pesawat?”, “Aman di sana?”.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana — namun bagi orang yang berada jauh dari rumah tanpa kepastian waktu kepulangan, pertanyaan itu terasa begitu dalam. Kami bisa menjawab, “Insya Allah aman”, namun di dalam hati pun ada gelisah — bukan hanya tentang perjalanan, tapi juga tentang keluarga yang menunggu kabar. Kami pun ingin segera berkata, “Kami segera pulang” — sayangnya, saat itu kami sendiri belum tahu kapan.

LABUAN BAJO PENUH

Kami bukan satu-satunya yang tertahan. Ribuan penumpang di berbagai bandara mengalami hal serupa. Wisatawan yang datang menikmati keindahan Flores kini harus mencari tempat berteduh sementara. Hotel-hotel penuh, penginapan penuh, kamar yang biasanya mudah didapat mendadak menjadi barang langka. Semua orang berebut tempat bermalam, dan kami pun merasakannya.

Namun Alhamdulillah, akhirnya kami mendapatkan sebuah penginapan sederhana di tepi pantai. Bukan hotel mewah, bukan tempat yang direncanakan — namun cukup untuk berteduh, beristirahat, dan menunggu. Kami menerimanya dengan syukur; dalam situasi seperti ini, sebuah tempat sederhana untuk merebahkan tubuh sudah merupakan nikmat yang besar.

Meski begitu, ada sedikit kekhawatiran yang terselip. Penginapan itu berada tepat di tepi pantai, dan di ingatan masih terbayang sejarah Anak Krakatau serta tsunami yang pernah terjadi pada 2018. Meski informasi resmi saat itu tidak menunjukkan potensi tsunami langsung, kewaspadaan tetaplah wajar. Kami pun berusaha menenangkan hati — apa pun yang terjadi, kami berada dalam penjagaan Allah.

BERBAGAI ALTERNATIF MULAI DIPIKIRKAN

Menunggu tanpa arah bukan pilihan. Maka berbagai kemungkinan mulai dipertimbangkan satu per satu. Bagaimana jika tidak bisa terbang langsung ke Jakarta? Apakah bisa ke Lombok dulu, lalu menyambung dengan kapal? Atau menuju Kupang dan mencari penerbangan lain? Bagaimana jika harus lewat Bali terlebih dahulu? Bahkan muncul skenario yang terdengar seperti ekspedisi panjang: terbang ke kota yang masih terbuka, lalu menyeberang kapal, kemudian melanjutkan perjalanan darat ratusan kilometer menuju Jakarta.

Perjalanan yang biasanya hanya beberapa jam berubah menjadi kemungkinan perjalanan berhari-hari. Pesawat, kapal, mobil, jalan darat — semua dihitung, bukan karena mencari petualangan, melainkan karena ada tugas yang menunggu, keluarga yang menunggu, dan rumah yang ingin segera disambangi.

TELEVISI MEMBERI HARAPAN, BELUM KEPASATIAN

Informasi terus berubah. Ada kabar erupsi mulai mereda, ada berita ruang udara perlahan membaik. Namun meredanya aktivitas gunung tidak serta-merta membuat penerbangan kembali normal. Abu vulkanik tetap berbahaya — dapat merusak mesin dan sistem pesawat. Ruang udara harus diperiksa, bandara harus memastikan keselamatan sepenuhnya sebelum penerbangan boleh beroperasi kembali. Ada harapan, namun belum ada kepastian. Dan bagi mereka yang menanti kepulangan, jarak antara harapan dan kepastian terasa begitu jauh.

SENIN, 17.00 — MASIH MENUNGGU

Hari berganti. Minggu berlalu, masuklah Senin. Televisi tetap menyala, media sosial terus dipantau, kabar dari berbagai sumber terus dicari. Namun hingga pukul 17.00, belum ada kepastian yang meyakinkan: naik apa kami pulang? Pesawat? Belum pasti. Rute lain? Belum tentu. Lombok, Kupang, Bali? Semua masih dihitung, masih dipertimbangkan. Kapal? Ada kemungkinan. Jalan darat? Jauh dan melelahkan. Semuanya masih terbuka. Sementara agenda di Jakarta dan Bengkulu terus menunggu, keluarga terus bertanya, dan kami hanya bisa bersabar.

DI SINILAH KAMI KEMBALI BELAJAR TENTANG SABAR

Barangkali inilah bagian perjalanan yang tidak pernah tertulis dalam agenda. Tidak ada di jadwal, tidak direncanakan saat berangkat dari Bengkulu. Namun justru di sinilah pelajaran terbesar tersimpan. Bahwa perjalanan kemanusiaan tidak selalu mulus. Ada jalan berliku, ada tubuh yang lelah, ada jadwal yang berubah, ada pesawat yang batal, ada penginapan yang penuh, ada keluarga yang cemas, ada keputusan yang tertunda, dan ada ketidakpastian yang harus diterima dengan lapang dada.

Bukankah itulah hakikat kehidupan? Kita merencanakan, Allah menentukan. Kita berikhtiar, Allah yang membuka jalan. Jika pesawat belum ada, cari kapal. Jika kapal belum memungkinkan, cari jalan darat. Yang penting satu: jangan pernah berhenti berikhtiar.

Dan mungkin, setelah perjalanan kemanusiaan yang begitu panjang menyapa saudara di ujung timur, Allah ingin memberikan satu pelajaran sederhana: menolong orang lain membutuhkan tenaga, tetapi menunggu dengan sabar juga membutuhkan iman.

Kami belum tahu kapan tepatnya akan kembali, belum tahu kendaraan apa yang akan membawa kami pulang — namun satu hal yang kami yakini: perjalanan ini belum selesai. Masih ada jalan yang harus ditempuh, masih ada ikhtiar yang harus dilakukan, dan masih ada keluarga yang menanti kepulangan.

Sementara di tepi pantai Labuan Bajo, di sebuah penginapan sederhana, kami menarik napas panjang dan berkata: “Alhamdulillah… setidaknya hari ini kami masih diberi tempat untuk berteduh, waktu untuk beristirahat, dan kesempatan untuk terus berikhtiar.”

Karena mungkin inilah hakikat setiap perjalanan — bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa kuat kita tetap melangkah ketika jalan pulang belum terlihat. Dan malam itu, Labuan Bajo menjadi tempat kami belajar kembali tentang makna sabar.

Perjalanan kemanusiaan belum berakhir.

–Saeed Kamyabi–

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *