Perjalanan Kemanusiaan Gubernur Helmi Hasan

Gmpnews.id, Bengkulu – 

Dari Masjid ke Masjid, Menyapa Saudara, Menyalurkan Semangat

Ada perjalanan yang sekadar memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain. Namun ada pula perjalanan yang membawa hati. Perjalanan yang ditempuh bukan demi kenyamanan, bukan pula sekadar melengkapi agenda, melainkan untuk hadir di tengah saudara yang sedang berduka, menggenggam tangan mereka yang tertimpa musibah, menguatkan hati yang rapuh, dan berkata lewat kehadiran: “Kalian tidak sendiri.” Minggu (06/09/2026)

Itulah perjalanan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan ke Nusa Tenggara Timur. Sebuah perjalanan panjang yang menyusuri ratusan kilometer jalan berliku — naik turun, berkelok, sempit di beberapa ruas — yang menguras tenaga dan waktu. Dari Labuan Bajo menuju Ruteng, lalu ke Borong, Nagekeo, hingga tiba di Ende. Jarak yang jauh, medan yang menantang, pasti menyisakan lelah di tubuh. Namun anehnya, ketika tujuan adalah menemui saudara yang membutuhkan, rasa lelah seakan menemukan tempat untuk dilupakan. Setiap tikungan mengingatkan bahwa ada yang menanti. Setiap kilometer yang dilalui menjadi pesan: kepedulian tidak mengenal jarak.

KAMIS: TIBA DI LABUAN BAJO — MENATA HATI SEBELUM BERKARYA

Kamis, rombongan Gubernur Helmi Hasan mendarat di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Setelah perjalanan jauh, tubuh sepatutnya beristirahat. Namun tidak ada langkah menuju hotel. Tujuan pertama justru Masjid Nurul Falah. Di sanalah rombongan berhenti — bukan sekadar melepas penat, melainkan menata niat, menenangkan jiwa, dan memohon pertolongan Allah sebelum melangkah menemui saudara-saudara di NTT.

Rombongan didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu Herwan Antoni, Ketua BAZNAS Provinsi Bengkulu H. Yulkamra, Direktur Utama Bank Bengkulu Iswahyudi, Komisaris Independen Bank Bengkulu Apriki, serta tim UPZ Bank Bengkulu.

Saat Maghrib tiba, silaturahmi berlanjut ke Masjid Baiturrahim Lamtoro, tempat rombongan bersilaturahmi dengan tokoh masyarakat Islam, Abah Syarif. Pertemuan berlangsung hangat, tanpa sekat — hanya ada suasana persaudaraan yang tulus.

Makin larut malam, rombongan tidak memilih hotel untuk beristirahat. Mereka tetap di masjid, beristirahat sekaligus beriktikaf. Sejak langkah pertama, satu pesan ditegaskan: sebelum menguatkan sesama manusia, kuatkanlah dulu hubungan dengan Allah.

JUMAT: LABUAN BAJO — RUTENG — BORONG

Menempuh Jalan Berliku, Membawa Kekuatan yang Tak Terlihat

Pagi Jumat, perjalanan darat dimulai. Dari Labuan Bajo menuju Ruteng, jalan membelah bentang alam yang indah namun menuntut tenaga dan konsentrasi. Kilometer demi kilometer, tikungan demi tikungan, tubuh mulai merasakan letih. Namun tidak ada keluhan — karena di ujung jalan ada saudara yang menanti.

Sesampainya di Ruteng, Gubernur Helmi Hasan menyempatkan bersilaturahmi dengan Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Ruteng. Pertemuan lintas iman ini menjadi gambaran indah wajah NTT dan Indonesia: berbeda keyakinan, namun tetap duduk bersama sebagai saudara. Perbedaan bukan penghalang — justru di tengah kemanusiaan, perbedaan menjadi ruang untuk saling menghormati, menyapa, dan menolong.

Selepas itu, beliau menunaikan salat Jumat di Masjid Raya Ruteng. Perjalanan pun berlanjut kembali menempuh jalan berliku menuju Masjid Nurul Jihad, Borong. Di sana, rombongan disambut Ketua BAZNAS Borong KH Hendra Umbu. Di momen inilah Ketua DMI NTT H. Zainal Anwar menyampaikan kalimat sederhana yang menjadi ruh seluruh perjalanan ini:

“Bantuan jasmani memang diperlukan, namun bantuan ruhani pun tak kalah penting.”

Kalimat itu merangkum segalanya. Orang yang tertimpa bencana tidak hanya butuh makanan, pakaian, atau tempat tinggal. Mereka juga butuh penguatan jiwa — keyakinan bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan, harapan bahwa mereka mampu bangkit kembali. Karena memberi bukan hanya soal apa yang diserahkan dari tangan, melainkan semangat yang ditanamkan ke dalam hati.

Malam itu, setelah perjalanan panjang dan rangkaian silaturahmi, hari ditutup dengan makan malam bersama Bupati Ruteng Tarsisius Sjukur. Tubuh tentu lelah. Namun perjalanan belum selesai.

SABTU: RUTENG — NAGEKEO

Menembus Jarak, Mendatangi Saudara di Tengah Puing Bencana

Sabtu pagi, perjalanan kembali dimulai — kali ini menuju Nagekeo. Jarak yang jauh dan jalan berliku kembali menjadi teman perjalanan. Namun ada sesuatu yang membuat rasa lelah terasa berbeda: ada tujuan kemanusiaan yang menanti di depan.

Sesampainya di Nagekeo, rombongan disambut langsung oleh Bupati Nagekeo Simplisius Donasus, seorang mantan hakim. Suasana pertemuan hangat, namun tak berlama-lama — rombongan segera bergerak ke berbagai titik, mengunjungi masjid-masjid dan rumah warga yang terdampak gempa.

Di sana, bencana bukan sekadar angka atau berita. Ia tampak nyata di depan mata: dinding retak, atap roboh, rumah tak lagi layak huni, keluarga bertahan dalam keterbatasan, dan anak-anak yang mungkin belum sepenuhnya mengerti mengapa rumah mereka tak lagi aman.

Di tengah keprihatinan itu, hadirlah rombongan dari Bengkulu. Bukan karena jaraknya dekat — justru karena jaraknya jauh. Bengkulu datang, karena NTT ada di hati. Ratusan kilometer perjalanan, jalan penuh liku, tubuh yang lelah — semuanya menjadi kecil dibandingkan satu kebahagiaan: melihat saudara merasa bahwa mereka tidak sendirian.

NAGEKEO — ENDE

Menyapa Saudara, Menyentuh Sejarah

Dari Nagekeo, perjalanan berlanjut menuju Ende. Kembali jalan panjang terbentang, kembali tikungan-tikungan menemani. Namun semakin jauh melangkah, semakin dalam makna yang terasa.

Di Ende, rombongan menyempatkan bersilaturahmi dengan jamaah Masjid Darul Yaqin dan sarapan pagi bersama jamaah Masjid Agung Ende. Sekali lagi, masjid menjadi titik temu — tempat berkumpul, tempat berdoa, tempat persaudaraan disambungkan.

Namun di Ende, perjalanan juga menyentuh akar sejarah bangsa. Ditemani Sekda Gabriel Dala, rombongan mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno dan Taman Perenungan. Di sana diingatkan kembali: Indonesia tidak lahir dari perjalanan yang mudah. Bangsa ini dibangun oleh mereka yang bersedia berkorban, menempuh kesulitan, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan diri sendiri. Seakan perjalanan kemanusiaan ini menemukan cermin sejarahnya — dulu para pendiri bangsa menempuh perjalanan demi kemerdekaan; hari ini, perjalanan ditempuh demi menghadirkan kepedulian dan persaudaraan.

KEMBALI KE LABUAN BAJO

Ketika Keletihan Terlupakan dan Rencana Manusia Bertemu Kehendak Allah

Sekitar pukul 11.30, rombongan kembali menuju Labuan Bajo. Setelah melintasi Ruteng, Borong, Nagekeo, hingga Ende — tubuh tentu berada di batas kelelahan. Namun justru di situlah keindahan perjalanan ini: keletihan terlupakan oleh tujuan. Yang tersisa bukan rasa capek, melainkan rasa syukur — syukur telah sampai, syukur telah bertemu saudara, syukur telah dapat membantu, dan syukur karena perjalanan panjang itu menjadi amal.

Namun saat hendak terbang kembali ke Jakarta, rencana manusia bertemu kehendak Allah. Pesawat tidak dapat lepas landas akibat abu vulkanik yang mengganggu penerbangan. Rombongan pun menunggu. Mungkin Allah menunda bukan karena perjalanan gagal — mungkin masih ada hikmah yang belum selesai, masih ada hati yang perlu disapa, masih ada doa yang perlu dipanjatkan, masih ada pesan yang perlu disampaikan.

DARI MASJID KE MASJID, DARI HATI KE HATI

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan seorang Gubernur dari Bengkulu ke NTT. Ini adalah perjalanan kemanusiaan — menembus jarak, melintasi jalan berliku, melewati rasa letih, namun menemukan kekuatan baru setiap kali bertemu saudara.

Dari Masjid Nurul Falah ke Masjid Baiturrahim Lamtoro, lalu ke Masjid Raya Ruteng, Masjid Nurul Jihad Borong, masjid-masjid di Nagekeo, hingga Masjid Darul Yaqin dan Masjid Agung Ende — masjid demi masjid menjadi simpul persaudaraan yang tak terputus.

Bantuan materi meringankan beban jasmani. Nasihat menguatkan pikiran. Doa menenangkan hati. Dan silaturahmi mengingatkan: dalam kesulitan, manusia tidak pernah benar-benar sendiri.

Yang dibawa dari Bengkulu bukan hanya bantuan, melainkan persaudaraan. Bukan hanya materi, melainkan juga yang ruhani. Bukan hanya tangan yang memberi, tetapi juga hati yang menyapa. Dan itulah sebabnya ratusan kilometer terasa pendek, jalan berliku terasa ringan, dan keletihan yang berat menjadi terlupakan.

Karena ketika perjalanan dilakukan dengan hati, setiap kilometer adalah pengabdian.
Ketika perjalanan dilakukan karena Allah, setiap lelah menjadi ibadah.
Dan ketika perjalanan dilakukan untuk saudara yang tertimpa musibah, jarak bukan lagi penghalang.

Bengkulu dan NTT mungkin dipisahkan jarak yang jauh. Namun hati yang bersaudara tidak pernah mengenal jarak. Kami datang, karena kalian tidak sendiri.

Cerita ini belum berakhir. Masih ada perjalanan berikutnya, masih ada kisah yang akan terungkap.

— Saeed Kamyabi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *